Elpiji menghilang di Pasaran
Gresik, Beritakota – Warga Gresik kusiltan mendapatkan elpiji di pasaran setelah PT Pertamina (persero) menarik bantuan minyak tanah di enam kecamatan. Selain itu Pertamina gagal mengamankan kebijakanya menaikkan harga elpiji ukuran 12 kilogram (kg) sebesar 23 persen, sebab selain harganya membengkak menjadi hampir 30 kenaikan tersebut memicu kelangkaan elpiji dipasaran.
Salah seorang warga Kebomas desa Bunder mengatakan, elpiji ukuran 12 kg tidak hanya naik tak terkendali, tetapi bahan bakar gas tersebut hilang dari pasaran sejak beberapa hari ini.
“Eceran harganya sudah Rp 85 ribu itupun kalau ada,” kata Anwar pemilik warung rumahan di Jalan Wahidin Sudiro Husodo kota Gresik Rabu (9/7).
Untuk beralih ke mitan juga sudah tak mungkin, sebab mitan sudah sulit dicari karena sudah hampir 50 persen ditarik oleh Pertamina dari peredaran. Sedikitnya ada enam kecamatan yang sudah tidak mendapatkan distribusi mitan, yakni Kecamatan Gresik (kota) Duduk , Manyar, Cerme, Kebomas dan Menganti.
“Sejak konversi mitan ke elpiji warung kami keteteran. Karena biaya operasional membengkak,” tambahnya mengeluh.
Meski elpiji 12 terjadi kelangkaan tidak di ikuti elpiji 3 kg, stok cukup berlebih dan bahkan nyaris tak terjual. Itu terjadi lantaran daya beli masyarakt kian melemah pasca kenaikan harga BBM.
“Warga miskin dan usaha kecil menengah memilih kembali menggunakan kompor mitan (minyak tanah–red). Karena beli elpiji 3 kg harus mengeluarkan uang Rp 13,5, padahal untuk memasak hanya butuh satu hingga dua liter. Artinya warga hanya mengeluarkan Rp 7,500. Lumayan ada lebih Rp 6,000,-,” kata Nurhamin Ketua Kerukunan Kelompok Usaha Kecil Menengah Indonesia (KUKMI) cabang Gresik.
Sementara itu Sentot Suprihadi Kabag Perekonomian Pemkab Gresik mengatakan, pihaknya tidak tahu menahu kenaikan harga elpiji serta menghilangnya elpiji dipasaran.
“Yang menaikkan harganya kan Pertamina, selain itu barang tesebut bebas dipasaran. Sehingga kami tidak bisa memberikan jaminan apapun terkait kemahalan dan kelangkaanya,” ujar Sentot.
Terkait dengan penghentian penyaluran mitan pasca konversi mitan ke elpiji di wilyah Gresik, Sentot, juga tidak mengetahui secara pasti. Pria yang juga sebagai koordinator konversi energy pemkab Gresik ini hanya mengira-ngira, karena mengaku tidak mempunyai data tentang peredaran mitan yang mestinya menjadi tanggung jawabnya itu.
“Saya tak punya datanya, tapi kalau nggak salah, Gresik, Cerme, Manyar, Duduk sudah ditarik,” tukasnya. yn
Dibaca: 1063 kali


Very nice!!