Advertorial Display

Petani Sekitar PT. SG Rugi Rp 5 Juta/Hektar

Anggota DPR RI Protes Impor Sapi Illegal Asal Australia thumbnail

Tuban, Beritakota – Menurunya debet air di embung yang merupakan lahan eks pertambangan milik PT Semen Gresik (SG) dikawasan Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban saat musim kering saat ini sangat dirasakan oleh ratusan petani minimal di lima desa wilayah sekitar pabrik.

Lima desa tersebut diantaranya, Desa Tobo, Sugihan, Temandang, dan Pompongan, Senori Kecamatan Merakurak hingga Desa Suwalan Kecamatan Jenu.

Selain karena factor musim kemarau, para petani diwilayah tersebut salah estimasi saat menentukan musim tanam.

“Sampai bulan Mei kemarin terkadang masih turun hujan sehingga perkiraan petani banyak yang meleset” Kata Suwarto, salah seorang petani diwilayah Desa Tobo.

Akibat salah estimasi tersebut, tanaman padi usia dua hingga tiga bulan tampak mengering. Sebagian besar dari petani tersebut sengaja membiarkan tanaman mereka mati. Pasalnya, untuk mengairi lahan persawasahan saat ini memerlukan biaya yang cukup tinggi.

Apalagi, lahan persawahan tersebut masuk dalam katagori lahan tadah hujan, sehingga tiap musim kemarau bisa dipastikan mengalami kekeringan.

“Yang kami jagakan ya air dari sendang Semen Gresik. Sekarang sudah tidak bisa berharap karena susut” Ungkap petani yang lain.

Para petani ini juga mengaku mengalami kerugian ongkos produksi antara Rp. 2 sampai Rp 2,5 juta tiap hektarnya. Angka kerugian itu tidak termasuk keuntungan apabila tanaman padi sampai saat proses panen. Tidak salah, kalau tak kurang dari Rp. 10 juta tiap hektarnya yang menurut petani untuk bekal `persediaan` musim kemarau tinggal angan-angan.

Kondisi ini dibenarkan oleh Kades Sugihan Zito Warsito yang mengakui kalau saat ini kondisi tersebut dikeluhkan oleh para petani di desanya. Menurut dia, persediaan uang untuk menghadapi musim kemarau semakin menipis gara-gara mereka terlalu `nekat’.

“Petani di desa Sugihan yang punya lahan tadah hujan sebenarnya sudah tahu kalau menghadapi musim kering. Tapi karena terkecoh hujan lebat yang tiba-tiba turun mereka nekat memulai tanam padi. Ternyata hujan deras hanya beberapa hari dan seterusnya tidak turun” Kata Zito.

Dari data yang dapat dihimpun beritakota, bahwa persediaan air di eks lahan pertambangan di PT Semen Gresik, terutama diwilayah Kecamatan Merakurak memang memberikan harapan baru bagi sebagian petani diwilayah lahan tadah hujan.

Kondisi itu memang belum berhasil menambah masa tanam namun, karena air yang mengalir cukup hasil panenan para petani lebih besar dari pada hanya mengandalkan turunnya hujan.

“Air dari embung itu memang menambah pasokan air. Tapi terbatas pada musim penghujan”kata sejumlah petani. (kh)

Keterangan Foto : Padi milik petani sekitar Pabrik PT.Semen Gresik, yang dibiarkan mengering karena, menurunya debit air dari embung bekas tambah PT.SG. beritakota.net / Gus HUda

Dibaca: 132 kali

Tagged as:

Comments are closed.

Temukan Kami Di Facebook