Advertorial Display

Kemenangan KarSa dan Ka-Ji Kontribusi Riil Ulama

Anggota DPR RI Protes Impor Sapi Illegal Asal Australia thumbnail

Guru Besar IAIN Prof. DR. Nur Syam
Surabaya, Beritakota  – Kemenangan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jatim, Soekarwo-Syaifullah Yusuf (KarSa) dan Khofifah Indar Parawansa (Ka-Ji) yang dipastikan masuk ke putaran kedua pilgub tak lepas dari peran para kiai dan ulama yang berada di belakang pasangan calon tersebut. Pernyataan ini dikemukakan oleh Pembantu Rektor III IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof DR Nur Syam, di sela-sela Launching Dan Bedah Buku Perilaku Politik Ulama dan Kiai Dalam Sorotan, di Rumah Makan Taman Apsari, Surabaya, Senin (28/7). Guru besar Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel ini, memperkirakan sedikitnya ada 60 persen dari seluruh kiai di Jatim ikut terlibat langsung dalam proses dukung mendukung pasangan calon yang ikut runing Pilgub Jatim.

“Jadi kotribusi kiai itu sangat besar dalam memenangkan pasangan KarSa dan Ka-Ji,” tegas Nur Syam

Ia mencontohkan sekitar 27 persen dari suara yang diperoleh pasangan KarSa dan 25 persen suara yang diraih Ka-Ji tidak lepas dari peran kiai. KarSa misalnya mendapat dukungan penuh dari pesantren Lirboyo Kediri begitu juga Ka-Ji dapat dukungan penuh dari sejumlah pondok pesantren yang lain.

“Total suara 27 persen yang diraih pasangan KarSa, 20 persennya didapat karena dukungan kiai. Sebab PAN dan Demokrat sebenarnya tak jalan, justru yang jalan peran kiai,” ungkap Nur Syam.

Karena itu jika ingin didukung oleh kiai atau pesantren, pasangan calon harus memberikan program yang memberikan kontribusi pada pendidikan pesantren.

Sementara, Darwies Maszar, penulis buku Perilaku Politik Ulama dan Kiai Dalam Sorotan, berpendapat masuknya kiai dalam ranah politik praktis seperti pilgub Jatim tak bisa disalahkan.Karena kiai dan masyarakat sama-sama mempunyai hak politik yang dilindungi undang-undang.

Dalam buku yang dibedah oleh Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) ini, Darwies ingin mengajak orang tidak diskriminatif kepada kiai.

“Mengapa kiai tak boleh berpolitik. Bukankan hak politiknya sama dengan yang bukan kiai,” beber anggota DPRD Jatim ini.

Politisi dari Sumenep Madura ini meminta kepada masyarakat memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada kiai untuk berpolitik praktis. Jika ada politisi yang dirugikan oleh peran kiai dalam politik adalah wajar karena dalam politik bagaimana mendapat suara dan dukungan politik dari masyarakat. Darwies juga mengingatkan tentang sejarah kiai yang banyak memimpin dalam perang kemerdekaan melawan penjajah.

“Sekarang kiai jadi pemimpin di daerah di persoalkan. Kiai disuruh kembali ke pesantren, itu tak adil,” pungkasnya. (fis)

Dibaca: 290 kali

Tagged as: ,

Comments are closed.

Temukan Kami Di Facebook