Pakde Beri Kuliah Mahasiswa STAI
Kediri, Beritakota – Semakin mendekati pencobosan dalam Pilgub Jatim putaran kedua, calon gubernur Jatim dari pasangan Karsa, Pakde Karwo, terus mendekati para konstituennya. Kali ini Pakde Karwo memberikan kuliah perdana dalam rapat senat terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana S1 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Hasanuddin, Pare, Kediri, Sabtu (18/10).
Dalam kuliah perdana yang juga diikuti 118 wisudawan tersebut, Pakde Karwo memberikan judul: Membangun Jatim Berbasis Agama. Menurut Pakde Karwo, realitas pendidikan di Jatim memang sangat khas. Salah satu filofosi yang dianut oleh masyarakat Jatim, adalah harmoni pendidikan.
“Harmoni dalam arti bahwa pendidikan di Jatim selain pendidikan umum yang maju, juga banyak pula pendidikan yang bersifat dinniyah salaf, atau pendidikan yang berbasis agama,” kata Pakde Karwo yang berpasangan dengan Gus Ipul dalam pilgub Jatim ini.
Kalau mengacu pada Unesco, lembaga yang mengurus pendidikan dunia di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), orang yang disebut melek huruf adalah masyarakat yang memiliki pengetahuna bahasa nasional dan bisa menulis dengan huruf yang dipakai secara nasional di negara yang bersangkutan.
“Jadi lulusan pondok pesantren yang sudah ahli menulis dan membaca huruf arab, masih dianggap sebagai orang yang buta huruf. Padahal tidak bisa diartikan seperti itu,” ungkapnya. Akibatnya, pada akhir tahun 2007 lalu, pendidikan di Jatim menempati urutan 19 dari 33 provinsi di Indonesia.
Karena itu, dalam konsep pendidikan yang akan dibangun oleh Pakde Karwo dan Gus Ipul adalah pembangunan pendidikan yang berbasis spiritual keagamaan, etika dan moral. Negara-negara seperti Jepang, Korea, Cina dan India bisa menjadi contoh bahwa norma sosial menjadi basis yang sangat penting bagi pendidikan. Setelah itu ilmu pengetahun dan teknologi.
Pakde Karwo menambahkan, bagaimanapun pendidikan harus juga seiring dengan upaya meningkatkan ketrampilan SDM. Para lulusan dari Indonesia saat ini banyak mendapatkan tawaran bekerja di negara-negara Arab Saudi, untuk menggantikan tenaga kerja dari Philippina. Tetapi realitasnya banyak kendala pada ketrampilan Sumber Daya Manusia (SDM).
”Solusi ini bisa dijawab dengan mengubah komposisi lembaga pendidikan menjadi 70 persen sekolah kejuruan dan 30 persen sekolah umum, serta menambah berbagai lembaga balai latihan kerja,” tambah Pakde, yang dalam acara tersebut didampingi oleh KH Zainuddin Djazuli.
Sementara itu, Ketua STAI Hasanuddin, Drs H Harun Khusaijin, M.Fil. mengatakan, konsep yang dibangun oleh Pemprov Jatim terkait dengan pengembangan pendidikan memang sudah dibuktikan. Sebab sudah banyak mahasiswa yang belajar di dinniyah salafiyah mendapatkan bea siswa untuk menambah ilmunya di lembaga pendidikan umum.
Dibaca: 526 kali”Salah satu contohnya adalah, sebanyak 26 mahasiswa yang belajar di kampus ini mendapatkan bea siswa mulai awal semester hingga lulus. Bahkan biayanya sudah diserahkan sejak awal kuliah,” kata Harun. (karsa/tim)


