Advertorial DisplayAdvertorial Display

Ratusan Hektar Padi Gagal Panen

Anggota DPR RI Protes Impor Sapi Illegal Asal Australia thumbnail

Tuban, beritakota.net, 17/12 – Sekitar 150 hektar tanaman padi milik warga tiga desa korban banjir terutama, di lahan yang terendam lumpur di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, dipastikan puso (gagal panen) karena terendam air setinggi 40 sentimeter (cm).

Ini menyusul derasnya hujan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat petani di tiga desa tersebut putus asa. Sebab, mereka sudah kehabisan modal untuk merawat tanamannya hingga panen tiba.

Ke 150 ha tanaman padi yang terendam air tersebut berada di Desa Tegalrejo, Simorejo, dan Kedungharjo. Dari data yang dihimpun beritakota.net (Rabu, 17/12) pada awal musim tanam lalu ratusan petani yang lahannya terendam lumpur berusaha mulai mengali lumpur tersebut dari lahannya. Ini dilakukan agar pada saat musim penghujan tiba lahan yang semula produktif dan kini berubah menjadi dataran tinggi karena terendam lumpur setinggi 1-2 meter tersebut bisa ditanami padi kembali.

Namun, pada saat padi berumur tiga pekan hujan deras terjadi secara berturut-turut hingga membuat sawah yang sudah menjadi kubangan bekas galian lumpur hingga tanaman padi terendam air dengan ketinggian 40 cm.

”Kami sudah berusaha menguras air dengan pompa diesel. Namun saat air surut petang hari, dan hujan kembali turun pada malamnya maka, esokkan harinya padi tengelam lagi,” Keluh Suwandi, salah seorang petani, Desa Tegalrejo.

Dia juga mengungkapkan, kejadian tersebut terjadi berulang-ulang hingga membuat dirinya, dan ratusan petani di tiga desa tersebut putus asa karena kehabisan modal untuk merawat tanaman padi tersebut. Kondisi tersebut, lanjutnya, membuatnya, serta ratusan petani lainnya terpaksa membiarkan tanamannya terendam air hingga tenggelam.

”Sebab kami sudah kehabisan uang untuk menguras air yang menenggelamkan padi. Apalagi, hingga saat ini pemerintah juga tidak membantu kami sama sekali,” ungkap, petani yang lahannya seluas 2 ha terendam air tersebut.

Senada disampaikan, Ngalimun, warga Desa Simorejo. Menurutnya, semenjak awal tahun 2008 lalu pihaknya serta ratusan petani di sekitar kampungnya telah mengalami gagal panen selama empat kali.

“Dan jika ditambah dengan sekarang ini berarti kami gagal panen karena terendam banjir selama lima kali,” terangnya, dengan nada sedih.

Dikatakannya, semenjak lahannya seluas 1 ha terendam liumpur sejak awal 2008 lalu dirinya sudah mengalami kerugian puluhan juta karena gagal panen.

”Dan sekarang ini kami hanya bisa pasrah. Sebab pada musim ini juga kami pasti tidak panen. Terus kita juga binggung bagaimana cara mengembalikan modal yang dapat dari berhutang,” urainya.

Sejumlah petani menjelaskan, pihaknya kesulitan untuk mengalirkan air yang diam di sawah-sawah yang mirip galian tambang tersebut. Sebab, pada sekitar lahan yang digali kondisinya mirip dengan bekas galian tambang. Para petani hanya bisa berharap pemerintah bisa segera membantunya dengan cara mengeruk lahan yang terendam lumpur tersebut agar lahan produktif tersebut bisa pulih kembali seperti sebelumnya.

Seperti diketahui, lahan seluas 450 ha di tiga desa tersebut terendam lumpur setinggi 1-2 meter akibat jebolnya tanggul Bengawan Solo yang ada di desa Tegalrejo pada awal 2008 lalu. Kondisi tersebut membuat 16 desa di Kecamatan Widang diterjang banjir hingga lima kali. Bahkan, banjir juga telah meluas hingga 4 kecamatan di Kabupaten Lamongan akibat tanggul Tegalrejo yang jebol sepanjang 200 meter tersebut. Selain itu, terjangan banjir juga membuat lahan yang terletak persis dibawah tanggul jebol tertutup lumpur dengan ketebalan 1-2 meter. (Kh)

Dibaca: 169 kali

Tagged as: ,

Comments are closed.

Temukan Kami Di Facebook