Ratusan Nelayan Blokir Jalan Tolak Petrochina
Dengan membakar ban bekas, menumpuk kayu dan batu di tengah jalan, para nelayan memblokir jalan raya yang menghubungkan Tuban-Lamongan lewat pesisir utara tersebut.
Aksi yang digelar sejak pukul 16.00 hingga 17.30 WIB kemarin merupakan aksi kedua yang dilakukan para nelayan setempat untuk memperjuangkan tuntutanya.
“Kita sudah melakukan koordinasi dan aksi demo kecil-kecilan beberapa waktu lalu, tapi tetap tak ada tanggapan dari Petrochina. Makanya, sekarang kita kompak turun lagi agar keluhan kami didengar,” kata Muhib, koordinator aksi.
“Kalau tetap juga tidak ada tanggapan, kita tidak akan berhenti melakukan aksi serupa,” imbuhnya.
Ketika melakukan longmarc dari masjid Karangagung ke terminal pipa Petrochina dengan membawa spanduk bertuliskan ‘Usir Petrocina karena Merusak Lingkungan’, sempat terjadi ketegangan antara warga dan petugas kepolisian. Adu mulut dan saling dorong nampak terjadi lantaran petugas meminta warga tidak memblokir jalan karena mengganggu ketertiban umum, sementara warga ngotot terus memblokir.
“Kami terus-terusan dibohongi. Ini tanah kami, ini kampung kami kanapa kami yang dikorbankan,” tandas salah satu peserta aksi sambil merangsek maju untuk menembus blokade petugas samapta Polres Tuban yang berjaga didepan terminal pipa Petrochina.
“Banyak sekali jaring dan perahu kami yang rusak terkena pipa. Selain itu, sejak ada pipa ini kita tidak bisa lagi melaut seperti sebelumnya. Hasil tangkapan terus menurun,” kata Rasuwi, 50, salah satu nelayan yang ikut dalam aksi itu.
Dikatakanya, selama ini pihak JOB PPEJ sudah membohongi warga setempat. Janji untuk membuatkan boom dan tangkis agar perahu nelayan bisa sandar dengan leluasa tanpa terganggu oleh pipa petrochina juga tak kunjung terealisasi.
“Sudah sempat kita ajukan itu, dan pihak Petrochina berjanji membangun. Tapi semua itu hanya bohong belaka. Buktinya sampai sekarang tidak ada realisasinya,” ungkapnya jengkel.
Hingga menjelang maghrib, tak ada satupun perwakilan dari Petrochina yang menemui warga. Di terminal pipa tersebut hanya nampak tiga orang satpam sedang berjaga. Karenanya, berkali-kali warga hanya bisa berdialog dengan petugas kepolsian yang sedang mengemankan jalanya aksi. Nampak pasukan dalmas dari Polres Tuban, Polsek Palang, Semanding dan Polsekta Tuban berseragam lengkap menjaga depan teminal pipa.
Selain itu, puluhan petugas berpakaian preman juga terus berjaga diantara kerumunan massa pendemo untuk mengantisipasi segala kemungkinan dalam aksi itu.
Menjelang buyar, para pendemo mengancam akan terus melakukan aksi sewaktu-waktu sampai tuntutan mereka dikabulkan. “Ini tanah kami, ini kampung kami, jadi kami bisa sewaktu-waktu menggelar aksi disini untuk menyampaikan aspirasi kami,” Tegas Muhib. “Kami tidak akan pernah berhenti memperjuangkan hak kami mempertahankan kelestarian lingkungan kami,” tambahnya.
Setelah para pendemo membubarkan diri, jalan raya pesisir utara tersebut kembali normal setelah beberapa jam sebelumnya macet total akibat tertutup massa yang berada di tengah jalan. Petugas sat lantas yang sejak awal ikut mengamankan jalanya aksi nampak serius mengatur arus lalu lintas agar kembali normal. Demikian halnya dengan batu dan kayu yang ada di tengah jalan juga langsung dibersihkan oleh petugas agar jalan bisa kembali dilintasi kendaraan. (kh)
Keterangan Foto : Ratusan nelayan Desa Karangagung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban tumplek-blek di jalan raya dalam aksi menolak keberadaan terminal pipa Joint Operating Body Pertamina PetroChina Est Java (JOB PPEJ). (Khoirul Huda/Beritakota.net).
Dibaca: 305 kali

Tuban (BeritaKota.net) – Ratusan nelayan Desa Karangagung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban tumplek-blek di jalan raya dalam aksi menolak keberadaan terminal pipa Joint Operating Body Pertamina PetroChina Est Java (JOB PPEJ) di daerah itu, kemarin (19/6).
Dalam aksi kedua ini, tuntutan warga tetap sama dengan sebelumnya, yakni mendesak agar JOB PPEJ bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan yang telah terjadi sejak pipa itu dipasang di wilayah Karangagung yang berakibat merosotnya tangkapan ikan di perairan setempat dan banyaknya jaring serta perahu nelayan yang rusak.