Advertorial Display

Ingin Independen, Quick Count Tanggung Biayai Sendiri

Anggota DPR RI Protes Impor Sapi Illegal Asal Australia thumbnail

pantau-tpsTuban (BeritaKota.net) – Untuk yang kedua kalinya bangsa Indonesia ini melakukan pemilihan presiden (Pilpres) secara langsung pasca tumbangnya rezim orde baru (Orba), yakni pada tahun 2004 dan saat ini (8 April 2009.red).

Berbagai begai metode penghitungan cepat untuk mengetahui dengan cepat yang lakuakan oleh sebuah lembaga independent gunakan untuk mengetahui siapa yang memperoleh suara terbanyak diantara para kandidat calon Presiden (Capres) dan calon wakil Presiden Cawapres).

Terkait dengan metode penghitungan cepat ini, sebuah TV Swasta (Metro TV.red) telah menggunakan metode Quick Count dan Exit Poll. Dalam Quick Count yang mengunakan metode merekap suara dari sebuah tempat pemilihan suara (TPS) sebagai upaya untuk memantau dan melaporkan hasil pemilih secara cepat sehingga dengan demikian akan mengurangi kemungkinan manipulasi rekapitulasi suara, disamping untuk mengurangi ketegangan pasca pemungutan suara.

Sementara Exit Poll, adalah sebuah cara untuk mengetahui pilihan pemilih dari mewancarai di TPS pasca ia meberikan pilihanya. Acara yang dilakukna ini adalah untuk menganalisis pilihan masyarakat yang nantinya akan digabungan dengan metode Quick Count.

Karena keberadaan sebuah lembaga yang melakukan metode penghitunag cepat saat ini kredibilatas dan tingkat kepercayaan masyarakat menurun terhadap Quick Count (Hutungan cepat) dikarenakan banyaknya ‘Order’ dari para mereka yang mempunyai hajat atau didanai dari mereka yang punya hajat, TV Swasta dalam melaksanakan program ini tidak terikat dengan salah satu Capres dan Cawapres.

“Kita benar-benar independent, kita mencoba untuk menjawab dari apatisme masyarakat yang menilai lembaga yang melakukan polling atau sejenis mengunakan mengunakan dana tidak dari calon atau yang mempunyai hajat,” Kata Jamal Ghofir Koordinator dapil IX Program Quick Count dan Exit Pool yang meliputi kabupaten Tuban dan Bojonegoro, Jumat (10/7).

Lebih lanjut, lembaga ini adalah bertujuan untuk memberikan informasi sebagaimana mestinya dan memberikan sebuh pendidikan politik yang mencerdaskan bagi Rakyat Indonesia dalam mengembangkan alam demokrasi di tanah air ini.

Lebih lanjut, jamal mengungkapkan bahwa metode yang di gunakan dengan pemantauan secara langsung dan melakukan wawancara dengan 4 responden, 2 responden laki-laki dan 2 responden perempuan. Setelah itu melakukan pengiriman data melalui sms yang telah di program sebelumnya.

Program Quick Count dan Exit Pool meliputi wilayah Dapil IX yang meliputi Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, bahwa ia menerjunkan relawan pada 17 titik pada wilayah Dapil 9 yaitu kecamatan Kapas (2 desa), Kasiman, Margomulyo, Bubulan, Kedungadem, Boureno, Sumberjo, Ngasem dan Malo untuk kabupaten Bojonegoro. Sedangkan di kabupaten Tuban meliputi Kecamatan Widang, Rengel, Jenu (2 desa), Tambakboyo, Montong dan Bangilan.

Hasil sementara dari relawan yang diterjuankan pada 17 titik, hampir 99 Persen, perolehan suara dimenangkan oleh pasangan capres Nomer 2 (SBY-Budiyono). Dari 17 Desa hanya tiga desa yang dimenangkan oleh pasangan capres nomer 1 (Mega-Pro), sedangkan pasangan JK-WIN sesuai dengan nomor urut, yakni selalu pada urutan Nomer 3.

“Tim kami tidak menemukan kendala, sementara hasil sementara, dari 17 titik, hanya dua titik yang dimenangkan oleh Mega-Pro, selebihnya SBY-Berbudi” Terang Jamal Ghofirdalam rilisnya. (kh)

Keterangan foto : Panitia pemungutan suara (PPS) saat mengitung perolehan suara capres di desa.Tegalrejo Kecamatan Widang Tuban, yang juga lokasi pantauan Quick Count dan Exit Pool. (Khoirul Huda/BeritaKota.net)

Dibaca: 213 kali

Tagged as:

Comments are closed.

Temukan Kami Di Facebook