Pemkab Tuban Sulit Bedakan OT dan Pengemis
Tuban (BeritaKota.net) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban mengalokasikan anggran untuk orang terlantar (OT) sebesar Rp. 2 jt/Tahun. Terlepas mereka ini benar-benar sebagai OT atau hanya menyaru OT, akan tetepi yang pasrti belakangan hal tersebut menjadi tren dipakai warga meminta-minta di lembaga pemerintah.
Di samping cukup terhormat,mereka lebih leluasa menjalankan aktivitasnya sebagai ‘pengemis’ terselubung. Sementara itu, hampir semua pemerintah daerah mengalokasikan dana dari APBD untuk membantu para OT yang melintas di daerahnya. Dana tersebut dipakai untuk uang saku para OT yang masuk wilayah daerah setempat.
Sedangkan Pemkab Tuban mengalokasikan jatah uang saku kepada OT yang besarnya disesuaikan dengan jarak daetrah asalnya. Di samping itu, mereka diberi fasilitas naik kendaraan umum gratis sampai tempat tujuan di daerah asalnya.
Untuk benar-benar bantuan tersebut tidak salah sasaran, Pemkab Tuban mau memberi fasilitas kepada OT, ketika yang bersangkutan membawa surat keterangan kehilangan dari kepolisian setempat, dan dari surat keterangan dari kopilisian inilah, mereka datang ke Dinas Sosial untuk menerima uang saku minimal Rp 25.000/OT.
Sementara itu, beberapa OT yang ditemui di Dinas Sosial Tenaga Kerja Kependudukan dan Catatan Sipil Pemkab Tuban menyatakan, mereka terpaksa menjadi OT karena kesulitan ekonomi. Mau menjadi pengemis terang-terangan, malu jika diketahui tetangga.
“Kalau meminta surat resmi sebagai orang terlantar kan lebih baik” Kata Sudiono yang mengaku berasal dari Brebes Jawa Tengah saat ditemui di Subdin Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja Kependudukan dan Catatan Sipil Tuban di Tuban, Selasa (14/7).
Semula dia tak mengaku jika OT menjadi profesinya sejak enam bulan terakhir. Namun, ketika di desak Beritakota.net, mantan supir truk ini pun membeber pengalamannya menggeluti profesi tersebut.
“Kemarin saya mampir di Pemda Ngawi, juga dapat sangu dan pakaian. Lumayan bajunya bisa dijual,” katanya sambil membuka tas hitam yang didalamnya berisi pakaian bagus.
Kasi Rehabilitasi Sosial Subdin Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja Kependudukan dan Catatan Sipil Tuban, Minto Ichtiar, menyatakan, pratik OT sudah lama terjadi namun belakangan marak dilakukan warga dari luar daerah. Paling banyak masuk ke Tuban dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat.
“Tapi banyak juga dari daerah lain di Jatim, seperti Madura, Jember, Kediri hingga Banyuwangi. Mereka sulit dibedakan apakah benar OT atau pengemis,” kata Minto Ichtiar saat ditemui di kantornya itu.
Dikatakan, pihaknya menyatakan seseorang disebut OT kalau sudah mengantongi surat keterangan kehilangan dari kepolisian terdekat.
“Ini sulit dideteksi, karena semuanya mengaku kecopetan, dompet dan isinya hilang. Makanya identitas aslinya kita juga sulit mengorek,” paparnya.
Selain itu, terkadang diantara peziarah Sunan Bonang dari luar daerah juga ada yang mengaku OT karena kecopetan. Meski begitu pihak Pemkab Tuban tetap saja melayani, karena memang ada pos dana untuk keperluan OT. Yang pasti, tambah dia, setiap bulan jika dirata-rata ada lebih dari 20 OT masuk kantornya minta bantuan. Bahkan pernah juga sampai 40 orang dalam sebulan.
“Dana yang kita miliki selalu kurang untuk mengurusi OT ini,” kata Minto seraya menambahkan, jika setahun ada pos dana untuk OT sebesar Rp 2 juta. (kh)
Dibaca: 211 kali
