Advertorial Display

Rumah Sakit Pendidikan Unair Beroperasi Tahun 2010

Anggota DPR RI Protes Impor Sapi Illegal Asal Australia thumbnail

RSP UnairSurabaya (BeritaKota.net) – Angan-angan Universitas Airlangga BHMN menjadi perintis rumah sakit pendidikan yang pertama di Indonesia akan segera terwujud. Hal itu sejalan dengan dilaksanakannya topping of atau pengecoran terakhir lantai delapan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Airlangga (RSP-UA), yang dibangun di kampus C Unair Jl. Mulyorejo Surabaya.

Pengecoran terakhir itu secara simbolis dilakukan bersama oleh Prof. Sam Soeharto, dr., SpMK selaku Pelaksana Harian Majelis Wali Amanah (MWA) Unair dengan Rektor Unair Prof. Dr. H. Fasich, Apt, dari halaman Rektorat Unair, Kamis (19/11).

Pengecoran simbolis ini dilaksanakan oleh dua pimpinan tadi dengan memencat tombol sirine, dan bersamaan itu pula mengucurlah adonan semen, pasir dan batu di lantai delapan RSP-UA itu. Sampai menjelang pengecoran lantai terakhir tersebut berarti pembangunan proyek rumah sakit dengan anggaran Rp 550 miliar itu sudah mencapai 60%. Diharapkan sisa 40% pengecoran dapat selesai akhir tahun 2009, dan disertai pekerjaan finishing yang lain sehingga pertengahan 2010 diharapkan rumah sakit pendidikan pertama di Indonesia ini sudah beroperasi.

Pimpinan PT Pembangunan Perumahan (PP) Wilayah V, Ir. Taufik Aria Saptadi, selaku pelaksana pembangunan, menjelaskan rumah sakit ini merupakan proyek besar, baik volume, base besi-besiannya, plafon, dan keramiknya. Hal itu jika dibandingkan dengan waktu pekerjaannya yang berlangsung 6 bulan hingga Desember 2009 ini. ”Untuk itulah kami mohon doa restu kepada semua pihak untuk menyelesaikan pekerjaan ini,” katanya.

Ketua Harian MWA Unair Prof. Sam Soeharto mengatakan, bangunan RSP-UA ini merupakan hikmah yang pantas disyukuri sejak Unair menyandang status sebagai PT BHMN. Pasalnya, inilah realitas fisik yang dihasilkan oleh Unair BHMN dan diyakini akan memberi manfaat bagi banyak pihak baik pemerintah, institusi, mahasiswa, ilmu pengetahuan dan masyarakat.

”Sejak Unair akan menjadi BHMN, selama ini sudah banyak diuji. Jadi rumah sakit ini merupakan realitas fisik dari hasil kami selama ini mengatasi ujian tersebut yang kami atasi dengan kebersamaan,” kata Prof. Sam Soeharto, yang juga Ketua Senat Akademik Unair itu.

Menurut Guru Besar FK Unait itu, disetujuinya proyek RSP-UA seluas 40.000 M2 ini oleh pemerintah merupakan anugerah dan kepercayaan besar yang pantas disyukuri. Sebab bersamaan dengan itu Unair juga mendapat kepercayaan Departemen Kesehatan untuk mengelola Rumah Sakit Tropik dan Infeksi (RSTI) seluas 30.000 M2, yang juga dibangun bersebelahan dengan RSP-UA ini di kampus C Unair. RSTI itu dibangun dengan anggaran Rp 400 miliar. Kemudian Senin (16/11) kemarin dipercaya memproduksi Seed Vaksin flu babi dan flu burung untuk manusia dengan fasilitas senilai Rp 1,4 triliun.

”Sungguh ini karunia Illahi yang harus kita syukuri, bayangkan di sekitar kampus C Unair ini tertanam proyek senilai Rp 1 triliun lebih, sebagai starting point rumah sakit pendidikan,” tambah Prof. Sam Soeharto. Atas dasar itulah ia berpesan agar pengelolaannya nanti yang dikonsep dalam manajemen kebersamaan, benar-benar dapat diwujudkan.

Sementara Rektor Unair Prof. Dr. H. Fasich, Apt., menambahkan bahwa program RSP ini merupakan kepercayaan kepada Unair yang senantiasa harus ditunaikan untuk kepentingan masyarakat dan pemerintah. Karena rumah sakit ini sudah dimulai maka kedepannya juga harus dilaksanakan secara bersama-sama oleh sebuah kompetensi yang ada di Unair, sehingga tidak ditumpukan pada Fakultas Kedokteran saja, tetapi juga pada fakultas yang lain seperti FKM, FKG, FKH, serta Fak. Psikologi.

”Kita tidak mimpi bahwa akhirnya mendapatkan anggaran proyek sebesar itu, karena itulah mari kita lanjutkan,” kata Prof. Fasich, yang langsung disambut gerrrr para undangan yang hadir. Rektor meminta kepada pimpinan universitas/fakultas yang bersangkutan untuk menyiapkan persiapan operasional RSP-UA ini, terutama pada manajemen sumber daya manusianya.

Butuh 330 Karyawan
Sementara itu Drs. Ec. Windijarto,MBA, anggota tim perencanaan manajemen rumah sakit pendidikan, mengatakan untuk kebutuhan operasional kinerja dua rumah sakit tersebut dibutuhkan sedikitnya 330 karyawan. Ratusan karyawan tersebut akan mengisi posisi tenaga administrasi, dokter umum, dokter spesialis, perawat, dsb.
Rencananya Desember nanti tim manajemen akan mengadakan open recruitment untuk menjaring tenaga kerja yang dibutuhkan.

”Setidaknya dibutuhkan 115 perawat, 96 dokter spesialis, 5 dokter umum, 81 tenaga administrasi serta untuk divisi-divisi lain. Total kami membutuhkan sekitar 330 karyawan,” kata Windijarto. Memang tak hanya lulusan Unair yang boleh melamar sebagai karyawan. Namanya saja open recruitmen, jadi terbuka untuk umum. Selain itu pihak manajemen akan memprioritaskan masyarakat sekitar kampus C asal mampu memenuhi kualifikasi yang diminta.

“Istilahnya untuk pemberdayaan masyarakat sekitar, kami juga membuka lowongan untuk umum, tak harus lulusan Unair. Siapa pun boleh mendaftar,” jelasnya. Intinya, sebagai rumah sakit pendidikan yang besar, rumah RSP-UA ini memang harus didukung oleh tenaga kerja yang berkualitas dan mampu mewujudkan visi-misi pendirian rumah sakit ini. *bes

Keterangan foto: Ketua Harian Majelis Wali Amanah Unair Prof. Sam Soeharto (tengah) bersama Rektor Unair Prof. Fasich, memencat tombol tanda pengecoran terakhir lantai 8 pembangunan RS Pendidikan Unair di kampus C, Kamis (19/11). BeritaKota.net/hms

Dibaca: 2216 kali

Tagged as: ,

Comments are closed.

Temukan Kami Di Facebook