Terompet Tahun Baru Tembus Kalimantan
Pasuruan (BeritaKota.Net) – Perayaan tahun baru bagi pasangan suami-istri Komari-Suweni, warga Jl Mawar, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, mendatangkan berkah dan keuntungan tersendiri. Pasalnya, hasil pekerjaannya tersebut selain mendominasi pasar di Jatim juga tembus hingga Kalimantan Timur.
Saat BeritaKota.Net mendatangi rumahnya, Kamis (3/12), Komari (46) dan isterinya Seuweni (44), tengah sibuk membuat terompet untuk memenuhi permintaan pasar menjelang datangnya malam tahun baru 2010. Bahkan untuk stok, pasutri ini sudah menyiapkannya sejak pertengahan Mei lalu dan sejak pertengahan November, terompet dari berbagai jenis dan model tersebut sudah mulai dikirimkan ke sejumlah kota di Jawa Timur.
“Permintaan terompet untuk tahun ini meningkat lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya, dan targetnya 30.000 buah. Sejak pertengahan November lalu sudah mulai kirim kemana-mana. Bahkan para penjaja terompet sudah berdatangan sekitar 30 orang,” kata Komari sembari menyelesaikan terompetnya.
Hingga saat ini terompet made in Komari-Suweni baru selesai sekitar 25.020 buah terompet yang terdiri dari berbagai model, mulai model biasa, , biola, ikan, naga, kuda laut dan model huruf U serta lainnya. Untuk pembuatannya, Komari yang sudah menjadi pengrajin terompet sejak tahun 1985 lalu ini menggunakan kertas manila dan duplek. Bahkan agar biaya produksi lebih murah, mereka rela membela kertas-kertas anfalan (produksi tidak terpakai) dari sejumlah perusahaan maupun perkantoran.
Puluhan ribu terompet itu dipasarkan ke beberapa kota di Jatim, diantaranya Malang, Batu, Surabaya, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Gresik, Mojokerto dan kota-kota lainnya. Bahkan untuk tahun ini, terompet pasutri Komari-Suweni ini tembus hingga Kaltim, terutama di kota Bero.
“Saya kirim ke Kaltim itu harganya juga sama dengan yang di Jatim ini. Mulai dari harga Rp 7.500 hingga Rp 15.000 setiap bijinya, tapi untuk model tertentu seperti naga hingga mencapai Rp 30.000. Model seperti itu biasanya pedagang sudah mendapat pesanan khusus dari tempat hiburan maupun hotel-hotel dan harga jualnya terserah pedagang,” imbuh Komari.
Diperkirakan begitu memasuki tanggal 15 Desember nanti, para pedagang yang biasa menjajakan dengan membawa pikulan, bakal berdatangan dari berbagai daerah lainnya.
“Setiap pedagang biasanya membawa maksimal 300 buah terompet dari berbagai jenis. Minimal yang datang ke tempat kami antara 40 hingga 50 pedagang. Biasanya kalau berjualan di kota-kota lainnya mereka membawa dagangannya dengan naik truk dulu,” ujar Suweni dengan tangannya yang cekatan membuat rangkaian spiral terompet. (Jack)
Keterangan Foto : Dominasi Jatim – Terompet bikinan pasutri Komari-Suweni mendominasi pasaran di Jatim, bahkan tembus hingga Kalimantan Timur. Komari dan Suweni saat mengerjakan pembuatan terompet, Kamis (3/12).
Dibaca: 426 kali
