Profesor ‘Face Off’ Daftar Bacarek Unair
Surabaya (beritakota.net) – Hingga saat ini sudah tercatat delapan pendaftar Bakal Calon Rektor (Bacarek) Unair. Pada hari ke-5 pendaftaran bacarek, Jumat (5/3) terdapat empat bacarek mendaftarkan diri di sekretariat PSCR Unair di lantai III Gedung Rektorat Mulyorejo. Ini berarti sejak dibuka pendaftaran 1 Maret lalu sudah 8 bacarek mengambil berkas pendaftaran.
Keempat pendaftar baru itu adalah Drs. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D dari Fakultas Saint dan Teknologi (FST), Prof. Dr. Suryanto, Drs., M.Si dari Fakultas Psikologi, Prof. Dr. Juliati Hood Alsogof dan Prof. Dr. David S Perdanakusuma yang keduanya dari Fakultas Kedokteran. Hingga saat ini sudah terdapat empat bacarek dari Fakultas Kedokteran. Masing bacarek mempunyai visi dan misi untuk memajukan salah satu kampus bergengsi di Indonesia Timur itu.
Publikasi Internasional
Kepada wartawan, Hery Purnobasuki mengakui sebagai orang pertama dari fakultasnya yang mendaftarkan untuk mewakili FST. Ia mengakui, disini memang masih ada yang lebih baik, namun ia punya keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi UNAIR. Sebagai warga kampus, ia sangat berkomitmen terhadap pengabdian. Menurutnya ada beberapa titik yang bisa diperbaiki jika kelak terpilih sebagai Rektor.
“Soal daya saing, saya akan tingkatkan jumlah publikasi internasional dan international recognition. Sementara ini memang masih kurang. Semangat dan kemampuan boleh lokal, tapi prestasi harus global. Unggul itu harus ada buktinya,” katanya.
Kedua, bidang pendidikan sebagai core business UNAIR juga harus ditingkatkan kualitasnya. Sangat disayangkan jika penelitian yang sudah dihasilkan ternyata hanya menjadi tumpukan arsip. Menurutnya produk yang bermanfaat jika tidak ditangani dengan baik, maka akan tidak terasa manfaatnya.
“Jika begitu, maka akan tak jelas keunggulan kita di mana? Kita ini punya banyak fasilitas, tapi masih sangat minim produk-produk riil yang bisa dipersembahkan untuk masyarakat. Jadi produk unggulan itu, tak hanya berhenti pada pameran saja,” tutur dosen Biologi UNAIR ini.
Di bidang pengabdian masyarakat, Hery tak ingin program yang dijalankan hanya sekedar hit and run. Perlu ada pemberdayaan potensi UNAIR untuk masyarakat.
“Misalnya KKN. Yang kita lakukan masih temporal. Ke depan, kita cukup menggarap kawasan tertentu saja, namun dikelola secara berkesinambungan dari segala aspek,” katanya.
Di bidang keuangan, ia menilai UNAIR perlu lebih menggali potensi yang dimilikinya. Jika terpilih, ia berjanji akan menggerakkan program Dharma Putra Airlangga. Produk unggulan akan diproduksi secara masal dengan menggandeng kalangan professional.
Siap Bangun Unair
Sementara Prof. Dr. Suryanto, Drs., M.Si., Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Unair mendaftarkan diri untuk bersaing karena ia merasa dibesarkan Unair sehingga akan mendarmabaktikan jiwa-raganya untuk almamaternya. Guru Besar Fak. Psikologi kelahiran Ngawi tahun 1965 ini membulatkan tekadnya setelah direstui Dekan dan rekan-rekannya.
”Niat saya mendaftar ini bukan sekedar ingin meramaikan, tetapi saya ingin mendarmabhaktikan diri dan kemampuan untuk almamater,” kata Prof. Suryanto, usai mencatatkan namanya di Sekretariat PSCR Unair, pukul 11.00.
Baginya,untuk mengabdi kepada almamater tidak harus menjadi Rektor, tetapi menjadi apapun yang penting bisa memberikan kontribusi yang baik. Tetapi jika nanti dipercaya menjadi Rektor Unair, professor yang menyukai seni pedalangan ini akan mempercepat pencapaian sasaran program yang sudah dilaksanakan yaitu internasionalisasi Unair menuju world class university (WCU).
Target dari sisi akademik jika menjadi Rektor, Prof Suryanto akan menekankan pada proses pendidikan yang menghasilkan lulusan dengan kemampuan soft-skills yang baik, sehingga bukan hanya sekedar IP tinggi.
Pasalnya, menurut dia, soft-skills sekarang lebih menentukan proses seseorang meraih keberhasilannya. Jika kemampuan itu dipadankan dengan kompetensi kualitas pendidikan di Unair, maka akan menghasilkan lulusan yang baik.
”Bagaimana caranya? Itu sudah ada disini, tinggal nanti pada waktunya untuk dituangkan dalam presentasi resmi,” katanya.
Dengan pembekalan soft-skills yang bagus, dia berharap lulusan Unair akan mampu bersaing di pasar kerja. Sasaran kerja ini sengaja ia ketengahkan sebab harus diakui bahwa orangtua mahasiswa kebanyakan berharap anaknya lekas mendapatkan pekerjaan atau dapat bekerja mandiri begitu lulus kuliah.
“Jadi saya datang kesini ini bukan siap untuk kalah atau menang dalam Pilrek, tetapi saya siap untuk membangun Unair,” kata Prof. Suryanto, yang mengaku mendapat dukungan dari rekan-rekannya di fakultas. Tetapi menurutnya, siapapun boleh dukung-mendukung, asalkan yang terpenting itu demi kesatuan, sebab Unair ini merupakan satu kesatuan dari fakultas-fakultas sehingga tidak perlu untuk dipisah-pisahkan.
Mengkomodasi Perempuan
Sementara itu Prof. Dr. Juliati Hood A, dr., MS., SpPA(K) FIAC dari FK Unair sebagai pendaftar pertama bacarek wanita. Kepada wartawan yang menemui usai mendaftarkan, ia mengatakan berniat mendaftar sebagai bacarek Unair ini karena melihat ada peluang, serta merasa terpanggil untuk menjadikan Universitas Airlangga lebih maju hingga sampai pada sasaran yang hendak dicapai yaitu World Class University (WCU).
Isteri Prof. Hood Alsogof yang juga Guru Besar FK Unair itu merasa yakin dengan dukungan percepatan yang harus dilaksanakan maka WCU akan segera tercapai. Menjawab pertanyaan, Prof. Juliati mengatakan tidak masalah dari Fakultas Kedokteran tampil beberapa bacarek. Hal itu bukan berarti untuk saling bersaing, tetapi ingin memberikan sumbangsihnya. Hal itu didasari oleh sejarah bahwa FK merupakan fakultas tertua dan pendiri di Unair. Untuk itu pihaknya akan bersatu dan bekerjasama dengan fakultas yang lain untuk saling meningkatkan kualitas baik di jenjang nasional dan internasional.
Jika dipercaya untuk menjadi Rektor, program yang akan dikerjakan antara lain akan mengakomodasi peran kaum wanita berprestasi di Unair, serta akan meningkatkan peran mahasiswa yang berprestasi ke tingkat internasional. Hal itu akan dilakukan karena menyadari bahwa peran rektor adalah manajerial, sehingga akan melibatkan staf-staf muda berprestasi untuk lebih berperan.
Selain itu ia juga mempunyai rancangan untuk memberikan 25% porsi mahasiswa yang tidak mampu tetapi memiliki prestasi akademik unggul, maka akan diupayakan untuk tetap bisa menyelesaikan pendidikannya di Unair, caranya dengan menerapkan subsidi silang dengan mahasiswa dari kalangan mampu.
Menandai Ulang Tahun
Sementara Prof. Dr. David S Perdanakusuma mencatat sejarah baru, dimana pada Hari Ulang Tahunnya yang ke-50 yang jatuh pada Jumat 5 Maret 2010 kemarin, ditandai dengan mendaftar dirinya untuk menjadi bacarek Unair.
“Ini hari baik bagi saya, hari ini saya bertepatan ulang tahun saya yang ke-50. Mudah-mudahan ini bisa jadi titik balik bagi saya untuk bisa memajukan UNAIR,” kata Professor ahli bedah plastik yang selama ini terkenal ikut menangani “Face Off” Siti Nurzajila itu.
Hadir bersama dua kandidat FK yang lain, Prof. David mengaku pada awalnya ia tidak berhasrat mendaftar. Tetapi menjadi tergugah justru ketika mendapat dukungan dari seniornya yang kebetulan juga maju sebagai bacarek.
“Hingga tadi pagi saya belum ada rencana. Tapi akhirnya saya jadi punya niatan untuk turut berperan setelah ada masukan dari para senior, akhirnya saya mendaftar ini,” tuturnya.
Dijelaskan, internasionalisasi merupakan fokus yang hendak digerakkan jika kelak sebagai Rektor.
“Kita harus bergerak ke arah itu dengan lebih cepat. Saya akan perkuat IT (information technology) untuk menyertai internasionalisasi UNAIR. Itu agar potensi yang ada, bisa disajikan dalam kondisi yang sebenarnya,” ujarnya.
Menurutnya, UNAIR diyakini memiliki banyak unggulan. Hanya saja, potensi UNAIR masih belum bisa disajikan secara utuh. Untuk itu, segala bentuk pelaporan dan pendataan keunggulan, harus terangkum dalam satu format.
Guna menciptakan keunggulan, Prof. David berjanji akan menyisihkan 25% dari formasi mahasiswa UNAIR, diperuntukkan bagi mereka yang tak mampu.
“Bagi mereka yang pintar dan tak mampu, sejumlah 25% dari total mahasiswa di seluruh Fakultas akan kita sediakan beasiswa. Itu juga untuk menopang kualitas UNAIR sendiri nantinya,” demikian tekad Prof. David. Target yang dicanangkan pun tergolong tidak main-main. Menurutnya, jika sudah memiliki kualitas seperti yang dicanangkan, maka UNAIR pasti akan menjadi yang terbaik.
“Sampai tahun 2015 nanti, peringkat dunia UNAIR akan bisa menjadi yang tertinggi di Indonesia,” paparnya menegaskan. *brt/yan
Caption: Foto atas tampak Prof. Dr. David S Perdanakusuma ahli bedah wajah (face off) mengambil formulir pendaftaran bersamaan dengan ulang tahunnya ke 50 hari Jumat (5/3). Foto bawah; dari kiri Prof. Dr. Juliati Hood Alsogof, Prof. Dr. Suryanto, Drs, M.Si, dan Drs. Hery Purnobasuki, M.Si, Ph.D. Para calon ini siap menang kalah dalam persaingan memperebutkan kursi Rektor Unair. beritakota.net/hms
Dibaca: 598 kali
