10 Kandidat Bacarek Unair, Integrasi Satu Kekuatan
Surabaya (beritakota.net) – Hingga hari ke-8 pendaftaran bakal calon rektor (bacarek) Unair, Senin sore (8/3) tercatat sudah 10 kandidat yang ‘melamar’ ke panitia pendaftaran bacarek periode 2010-2015. Dua kandidat baru yang mendaftar adalah Prof. Dr. Muchammad Zaidun, SH, M.Si, yang saat ini menjabat Dekan Fak Hukum Unair, serta Prof. Dr. Moh. Rubianto, drg.MS, Sp.Perio.(K), mantan Dekan Fak Kedokteran Gigi (FKG) Unair.
Prof. M. Zaidun mengambil berkas-berkas pendaftaran di PSCR (Panitia Seleksi Calon Rektor) Unair, Senin (8/3). Sedangkan Prof. Rubby datang ke PSCR setelah Prof Zaidun. Dengan tambahan dua kandidat itu berarti bacarek Unair sudah terdapat 10 pendaftar.
Delapan lain yang sudah mendaftar adalah Prof. Dr. Achmad Syahrani (Farmasi), Prof. Dr. Soetojo, dr., SpU(K) (FK), Prof. Dr. Sunarjo Hardjowijoto, dr.,Sp.B.,Sp.U(K) (FK), Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak. (FE), Drs. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D (Fak Saint dan Teknologi), Prof. Dr. Suryanto, Drs., M.Si (Fak Psikologi), Prof. Dr. Juliati Hood Alsogof (FK) dan Prof. Dr. David S Perdanakusuma (FK).
Integritas Satu Kekuatan
Kepada wartawan, Prof. M. Zaidun mengatakan, siapapun yang maju mendaftar sebagai bacarek hendaknya untuk kepentingan Unair, dan bukan untuk kepentingan fakultasnya.
“Siapapun yang pantas dan layak, maka dialah yang akan menjadi Rektor,”katanya.
Menurut Prof. Zaidun, UNAIR harus dibangun dari unity yang kuat. Seluruh potensi fakultas harus dikembangkan. Karakter dan kekhasan fakultas perlu dipertahankan dan ditumbuhkan kembali.
“Jadi Universitas Airlangga ini ibarat rumah besar. Dan itu yang harusnya kita besarkan, sehingga sudah saatnya kita tak hanya membesarkan rumah yang kecil-kecil saja,” ujar pakar negosiasi dan mediasi suatu konflik hukum ini.
Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mendata potensi individu dan fakultas. Mulai dari individu, prodi, departemen, fakultas, dan universitas, semuanya harus maju bersama-sama. Seorang Rektor itu selain sebagai inisiator pengembangan, ia juga seorang leader. Jangan sampai potensi yang sudah luar biasa ini tampak keluar sendiri-sendiri. Untuk itu, jika ia dipercaya menjadi Rektor, akan fokus pada integrasi untuk satu kekuatan Unair.
Sehubungan dengan target internasionalisasi, Prof. Zaidun mengaku telah memiliki arah untuk mewujudkannya. Jika kelak terpilih, ia berjanji akan meningkatkan kualitas SDM. Saat ini saja di FH ia sudah mengirim 24 dosen sekolah keluar negeri. Tenaga kependidikan juga ada yang saya sekolahkan lagi, kata Dekan FH Unair itu.
Selain itu Unair perlu menata kembali kurikulum di fakultas agar bisa berskala internasional. Kemudian membangun perpustakaan sebagai jendela Unair, menata jaringan pendidikan dan penelitian, serta memperkuat leadership bagi kemajuan universitas.
Menurut dia, mahasiswa juga merupakan salah satu komponen penting yang wajib diperhatikan.
“Jangan ada jarak dengan mahasiswa. Mereka itu potensi masa depan. Kualitas mahasiswa harus ditingkatkan. Mahasiswa itu adalah fokus yang akan saya kembangkan nanti,” ujarnya. Karenanya, Prof. Zaidun berjanji akan melibatkan mahasiswa dalam setiap kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat.
Nurani untuk Kemajuan
Sementara ditanya seusai mendaftar, Prof. Dr. Moh. Rubianto, drg.MS, Sp.Perio.(K) mengatakan, ia sengaja kembali meramaikan bursa pemilihan Rektor ini, setelah 4 tahun lalu gagal dalam bersaing. Mantan Dekan FKG ini, bermaksud memberikan seluruh potensinya bagi kejayaan Unair.
“Saya datang untuk memenuhi hak, keinginan dan kewajiban. Saya ingin memberi sesuatu untuk almamater. Ini hadir dari nurani untuk memajukan Unair,” katanya.
Meski pernah gagal dalam pemilihan Rektor yang lalu, Prof. Rubianto mengaku tetap ingin berbuat banyak kemajuan bagi Unair. Saat ini yang perlu dikerjakan adalah membangun sense of unity dan sense of belonging untuk hasilkan yang lebih efektif, efisien dan produktif.
Agar Unair menjadi world class university, ia mengaku telah mencermati beberapa indikator. Namun sebelumnya perlu berjuang untuk mengembalikan citranya. Setidaknya butuh dua sampai tiga tahun untuk membangun citra Unair agar berada di tempatnya. Baru setelah itu kita bisa disebut excellent.
Menurutnya, untuk menjadi excellent itu harus membenahi internalnya terlebih dahulu. Untuk go international itu tidak semudah membalik tangan. Jadi harus benahi dan sejahterakanlah yang ada di dalam, baru kita lari ke sana. Dan, membenahi yang ada di dalam ini penting. Khususnya kultur dan komunikasi. Misalnya, kita perlu lebih menggandeng alumni dan para Guru Besar yang ada.
Jika internal sudah sejahtera maka good governance seperti apa yang dilakukan sekarang ini akan lebih cepat tercapai.
Seiring dengan peningkatan citra, hal itu perlu untuk membangun international recognition. Menurutnya Unair akan dikenal jika mampu menghasilkan produk-produk yang juga sanggup mempengaruhi stakeholder. Termasuk dari kalangan industri. Dan itu tercapai jika mampu membangun networking yang baik.
Untuk kepentingan itu, Prof. Rubianto menginginkan Unair dapat segera mendirikan SUK (Satuan Usaha Komersial) sesuai konsep BHMN. “Hasilnya selain untuk kesejahteraan internal, juga akan digunakan untuk beasiswa dan reward bagi mahasiswa berprestasi ,” papar pria 59 tahun ini.
Jika terpilih, hingga akhir masa jabatan Rektor nanti, ia setidaknya berjanji untuk tetap fokus pada peningkatan research dan produk unggulan yang bisa diterima stakeholder, dan akan menggunakannya untuk kesejahteraan bersama. *brt
Dibaca: 701 kali
