Advertorial Display

Teologi Profetik: Agama Atau Marxis?

Anggota DPR RI Protes Impor Sapi Illegal Asal Australia thumbnail

Oleh : Suhermanto Ja’far *

Teologi berasal dari bahasa Yunani dari kata, “theos, yang berarti “Allah, Tuhan”, dan logia yang berarti “kata-kata,” “ucapan,” atau “wacana”. Teologi berarti wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan. Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Karena itu, seorang teolog berupaya menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu bidang dari topik-topik agama.

Misi gerakan Profetik melalui pintu teologi mengilhami para penerus gerakan profetik memunculkan gerakan Teologi Pembebasan. Teologi pembebasan sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, awalnya muncul di Eropa abad XX dan menjadi studi penting bagi agama-agama untuk melihat peran agama dalam membebaskan manusia dari ancaman globalisasi dan menghindarkan manusia dari berbagai macam dosa sosial. Disamping itu, agama harus mampu menawarkan paradigma untuk memperbaiki sistem sosial bagi manusia yang telah dirusak oleh berbagai sistem dan idiologi dari perbuatan manusia itu sendiri. Perkembangan teologi pembebasan di Eropa lebih pada pemikiran, sedangkan di Amerika Latin dan Asia pada pemikiran ke gerakan untuk melawan hegemoni kekuasaan yang otoriter. Teologi pembebasan di Amerika Latin merupakan bagian dari gerakan kaum agamawan melawan hegemoni kekuasaan negara yang otoriter.

Bila dikaji lebih dalam, kasus pembebasan di Amerika Latin hakikatnya hampir sama dengan kasus negara Indonesia, dimana pada masa orde baru pemerintahan di pegang oleh kalangan militer dan didukung oleh birokrasi yang kaku, dan institusi agama yang dibentuk oleh negara untuk menjaga kekuasaan negara. Selama 32 tahun, pemerintah bertahan dengan kekuasaan dan ketergantungannya pada dunia kapitalis. Hal ini disebabkan faktor negara yang represif dan kuat. Teologi pembebasan yang berkembang di Amerika Latin telah menunjukkan keberhasilan dalam memperjuangkan hak keadilan bagi masyarakat kecil. Pertarungan antar negara, institusi agama dengan elit agama di luar institusi, dan rakyat yang tertindas menyatu mendapat kemenangan dan meruntuhkan rezim yang kuat.

Berbeda dengan di Indonesia, kuatnya negara dan melemahnya rakyat menyebabkan rakyat tidak kuat melakukan tekanan terhadap negara. Hal ini terlihat pada tahun 1980-an, kajian teologi pembebasan di negeri kita mendapat tantangan keras dari negara. Romo Mangunwijaya dan Abdurrahman Wahid adalah tokoh-tokoh yang pada awalnya sangat intens mendiskusikan teologi pembebasan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas oleh negara. Diskusi intens ini mendapat larangan dan kecaman oleh negara. Munculnya buku-buku teologi mendapat respon yang keras oleh negara dan melarangnya beredar, dengan alas n bahwa teologi adalah bagian dari ajaran dan idiologi Marxis. Hal ini terlihat dari model gerakan atau perlawanan. Teologi yang dijalankan oleh Romo Mangunwijaya dan Abdurrahman Wahid merupakan pekerjaan yang sangat mulia, yaitu membela dan membantu masyarakat kecil dari arogansi negara, dan pelarangan oleh negara tampak efektif. Akan tetapi, yang perlu diketahui, teologi pembebasan adalah bagian dari seruan agama untuk membela keadilan dan kesejahteraan umat manusia.

Jawaban yang singkat dan padat adalah bahwa teologi pembebasan maupun buku Teologi Pembebasan ini tidak mengandung ajaran Marxis/Leninis, tapi memang dalam salah satu tahapannya dapat (tapi tidak selalu) mempergunakan analisis Marxis.1 Dan itu justru menunjukkan bahwa merekalah yang telah mengikuti ajaran Leninis yang menghalalkan faham diktatorian dengan bertindak anarkhis.

Dari segi metodenya, teologi pembebasan dalam perkembangan dari satu tahap ke tahap lainnya telah mengalami perubahan. Yang perlu ditekankan disini, yakni bahwa teologi pembebasan tidak pernah menggunakan metode Leninis yang menghalalkan diktator proletariat itu, justru melawannya. Pada tahap kedua, teologi pembebasan menambah satu lagi dari dua metode yang dipergunakannya pada tahap pertama, yakni metode analisis ekonomi-sosial dan budaya dari aliran pemikiran non-Marxis, seperti strukturalisme, neopopulisme, environmentalisme, dan futurisme.

Pada tahap perkembangan ketiga, teologi pembebasan sudah amat dengan kesadaran akan pentingnya tradisi-adat dan historisitas budaya masyarakat hukum adat dan masyarakat marginal. Upacara-upacara mereka, doa-doa mereka yang nampak sederhana dan kadang dahulu ditafsirkan sebagai primitif dan penyembah berhala, dengan sentuhan roh pembebasan anak-anak bangsa, justru menjadi kekuatan bertahap dalam deraan penindasan dan penderitaan. Pada tahap ini, metode ilmu antropologi menjadi dominan. Oleh karena itu, menyederhanakan anggapan bahwa teologi pembebasan mengandung ajaran Marxis/Leninis adalah sikap mempermalukan diri sendiri di hadapan masyarakat global dan terpelajar.

Sebagai penutup, kami hendak menekankan bahwa teologi pembebasan adalah teologi praksis non-violence, tanpa kekerasan, maka sebagaimana ditunjukkan oleh film “The Mission” hidup dengan empat pilar pembebasan anak-anak bangsa, selama sistem yang merupakan struktur dominan neo liberal dan otoriter, tidak selalu berarti hidup bebas dari penindasan, pembohongan, dan penghianatan. Kekerasan dibalas dengan kekerasan memang dapat menjadi pilihan, tetapi akan selalu melahirkan spiral kekerasan, dan tidak jarang bumerang kekerasan bagi yang melempar kekerasan yang pertama kali. Dari hasil berteologi pembebasan di atas, yakni penemuan kembali roh tradisi yang dapat mentransformasikan sikap pasif dan mengalah menjadi sikap percaya dan tekun berjuang untuk kemakmuran, kebenaran dan keadilan anak-anak bangsa dengan elegan di panggung dunia, maka kita akan melihat kemenangan menanti di ufuk depan. Globalisasi ekonomi dan politik idiologi, kita hadapi dengan wajah-wajah manusiawi yang kita ketemukan pada globalisasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.

Islam oleh kebanyakan orang dipandang tidak sejalan dengan pembebasan. Ini karena apa yang terlihat selama ini ialah, Islam menghukum mati mereka yang berzinah dan menghujat Allah, Islam memotong tangan mereka yang mencuri, dsb. Pandangan sepihak ini kemudian menciptakan kesimpulan-kesimpulan sepihak terhadap perilaku Islam dalam tatanan sosial bahwa Islam bersifat fundamentalis dan memaksakan syari’ah (hukum Islam) pada setiap orang. Sebenarnya masalah yang sama juga terjadi pada agama-agama lain. Dan Islam sebenarnya telah banyak mengilhami para pemimpin yang berjuang demi kebebasan. Dalam dunia Islam sebenarnya terjadi banyak gerakan-gerakan pembebasan. Gerakan-gerakan yang lahir akibat ketertindasan yang dialami oleh orang-orang muslim baik pada masa kolonial maupun pasca kolonial.

Ali Shariati seorang pemikir kelahiran Iran adalah contoh aktivis dan pemikir yang harus membayar dengan nyawa segala aktivitas dan pemikirannya. Ia telah bergabung dengan gerakan perlawanan sejak dinobatkannya Shah Iran pada tahun 1953. Pada tahun 1960 ia mendirikan Gerakan Pembebasan Iran dan Front Nasional pada tahun 1962. Ia juga sempat beberapa kali mendekam dalam penjara. Usaha konsientiasinya ditempuh dengan melakukan ceramah-ceramah dan pembagian buku secara gratis. Iran pada saat berada pada situasi dimana kekuasaan Shah dipandang sebagai boneka kekuasaan Barat. Shariati menyebut Allah dalam Islam sebagai Allah orang-orang tertindas. Dan tauhid bagi Shariati merupakan pandangan dunia yang melihat seluruh dunia, sistem yang utuh, menyeluruh, harmonis, hidup dan sadar diri, yang melampaui segala dikotomi, dibimbing oleh tujuan Ilahi yang sama.

Manusia adalah wakil dari Allah, maka manusia bertanggung jawab tidak hanya atas nasib hidupnya sendiri tapi juga mempunyai tugas untuk memenuhi tujuan Ilahi bagi dunia. Semua orang tidak hanya sederajat tapi juga bersaudara, mempunyai kodrat yangsama. Islam adalah agama yang realistis, kitabnya tidak hanya bicara mengenai metafisika dan kematian saja tapi juga bicara mengenai alam, masyarakat, hidup, dunia dan sejarah. Juga perjuangan, dimana umatnya diajak untuk patuh kepada Allah dan didorong untuk memberontak melawan penindasan, ketidak adilan, kebodohan dan ketiadaan persamaan. Shariati menyoroti bahwa hubungan yang tidak sederajat dan tidak adil antara segelintir orang yang berkuasa dan orang kebanyakan yang tak berdaya, tertindas, merupakan struktur pokok masyarakat dalam segala zaman. Perubahan, feodalisme, imperalisme adalah manifestasi yang berbeda-beda dari struktur dasar yang sama, yaitu ketiadaan persamaan.

Lebih jauh lagi ia melihat bentuk baru penindasan yaitu melalui dominasi ekonomi, dimana rakyat dirangsang untuk menjadi golongan konsumen. Untuk itu disebar luaskanlah budaya materialistis yang seragam. Rakyat, dalam tradisi mereka sendiri, kemudian dilucuti akar-akar budaya dan agamanya. Singkatnya mereka dilucuti jati diri dan kemanusiaannya dan menjadikan mereka obyek-obyek yang mudah dieksploitasi. Shariati kemudian menunjuk pada proses nyata yang sedang berlangsung di Asia dan Afrika saat itu. Ia kemudian menggaris bawahi peranan pemimpin yang disebutnya sebagai pemikir bebas. Bahwa pemimpin bukan saja sebagai pemimpin politik tapi juga kebudayaan yang dapat memberikan pencerahan dan penyadaran kepada rakyat. Para pemimpin ini dilihatnya sebagai penerus jalan nabi dimana tugas sebenarnya adalah memberikan bimbingan dan bekerja demi keadilan.

Kembali ke India, Asghar Ali Engineer adalah seorang pemikir pembebasan yang radikal. Ia terlibat dalam usaha-usaha penegakan HAM dan keselarasan antar agama. Ia menelaah unsur-unsur pembebasan dalam Islam melalui dialog dengan agama Kristen. Ia melakukan pendekatan yang bersifat tekstual, dengan merujuk kembali pada Al Qur’an.

Dalam menghadapi kekuatan-kekuatan sosial politik yang tidak adil dan menindas, sebagian orang muslim kemudian berusaha kembali pada pemaknaan kembali Al Qur’an maupun sunna. Mereka percaya bahwa tradisi Islam meberikan suatu rancangan cara hidup bersatu padu dan bebas. Asghar Ali Engineer kemudian melacak unsur-unsur pembebasan dalam Islam sampai ke nabi sendiri dan pengalamannya. Mekkah pada zaman itu adalah sebuah kota dagang dengan sedikit pedagang kaya dan banyak orang miskin. Mereka menyembah berhala dan kaum perempuannya ditindas serta berbagai bentuk kedzaliman lain.

Nabi kemudian diutus oleh Allah SWT untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan. Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial revolutif yang menjadi tantangan bagi struktur yang menindas. Ini dapat dilihat pada tujuan dasar dari Islam yaitu, persaudaraan yang universal, kesetaraan dan keadilan sosial. Islam sangat menekankan keadilan disemua aspek kehidupan dan keadilan ini tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan masyarakat lemah dan marjinal dari penderitaan serta memberikan mereka kesempatan untuk memimpin. Asghar Ali Engineer juga melihat bahwa salah satu unsur pembebasan yang penting adalah sikap terbuka, toleransi dan hormat kepada agama-agama lain.

Dari praksis inilah tradisi pembebasan dalam Islam muncul. Asghar Ali Engineer memang lebih diinspirasikan oleh nilai-nilai Al Qur’an ketimbang ilmu-ilmu sosial. Dalam kerasulan Muhammad SAW ia melihat pentingnya praksis kerja yang digerakan Muhammad SAW dalam merubah struktur sosial masyarakat yang timpang dan tidak manusiawi. Nabi Muhammad SAW tidak hanya melakukan revolusi keimanan tapi juga melakukan protes terhadap realitas sosio-kultural masyarakat Arab. Segala tindakan yang dilakukan nabi adalah merupakan praxis pembebasan dengan metode yang tertuang dengan jelas didalam Al-Qur’an. Ini menyiratkan bahwa visi pembebasan telah melekat dan bahkan menyatu menjadi dasar tindakan dalam Islam.

*Penulis adalah Dosen bidang Teologi Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, saat ini sedang menyelesaikan study S3 di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta.

Dibaca: 799 kali

Tagged as:

Comments are closed.

Temukan Kami Di Facebook