Advertorial Display

Embrio Perpecahan NU Mulai Muncul dari Jatim

Anggota DPR RI Protes Impor Sapi Illegal Asal Australia thumbnail

Oleh: Arief Turatno

PASCA diumumkannya susunan lengkap Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU) periode 2010-2015 hasil Muktamar NU di Makassar, belum lama ini, mulai muncul embrio perpecahan. Salah satu titik rawan perpecahan dari Ormas Islam terbesar di Tanah Air ini berasal dari Jatim. KHM Miftakhul Akhyar anggota formatur yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap susunan kepengurusan PBU NU tersebut. Alasannya, antara lain dia sebagai anggota formatur yang dipercaya kaum Nahdliyin untuk memilih dan membentuk kepengurusan PBNU sekarang ternyata ditinggalkan begitu saja. Dan secara sepihak Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj mengumumkan susunan pengurus hasil pilihannya sendiri.

Dakui, tidak hanya Pimpinan Pondok Pesantren Miftachussunah Kedung Tarukan, Surabaya saja yang kecewa dengan keputusan Ketua Umum PB NU KH Said Aqiel Siradj. Para pendukung calon Ketua Umum PBNU, Slamet Effendi Jusuf mengungkapkan rasa kecewanya. Karena jago mereka tidak saja terpental dari jabatan calon Wakil Ketua Umum PBNU. Namun, Slamet ditempatkan hanya sebagai Wakil Ketua biasa. Padahal, Slamet termasuk kader NU tulen yang merintis karier dari bawah. Slamet merintis dari IPNU/IPPNU, sampai menjadi Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Anshor dan kemain dalam pemilihan calon Ketua Umum PBNU dia menduduki peringkat kedua setelah Said Aqiel Siradj.

Dengan posisi seperti itu, banyak pihak yang menganggap Slamet sangat layak menduduki jabatan Wakil Ketua Umum dibanding calon lainnya. Faktanya? Slamet malah tergusur dan digantikan As’ad Said Ali yang sampai sekarang masih menduduki jabatan Wakil Kepala Badan Inteljen Negara (BIN). Tidak hanya itu, mantan Ketua Umum PBNU sebelumnya, KH Hasyim Muzadi juga tergusur dan menduduki posisi yang kurang begitu strategis. Pertanyaan dan persoalannya adalah mengapa sampai terjadi semacam pengucilan kepada KH Hasyim Muzadi dan Slamet Effendi Jusuf? Adakah hubungan antara pengucilan KH Hasyim Muzadi dan Slamet Effendi Jusuf dengan tindakan KH Said Aqiel Siradj meninggalkan tim formatur dalam penyusunan kepengurusan PBNU periode 2010-2015?

Hal itulah yang sekarang menjadi perbincangan ramai di kalangan nahdliyin dan masyarakat yang peduli terhadap keberlangsungan NU. Ormas Islam yang pernah diminta kembali ke khitah, bisa saja berubah total dengan struktur kepengurusan yang sekarang ada. Demikian halnya dengan amanah yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat membuka muktamar NU di Makasar, SBY mengatakan agar Ormas Islam itu jangan larut dalam kancah politik. SBY sekaligus mengingatkan kepada peserta muktamar supaya memilih calon Ketua Umum PBNU yang tidak pernah terlibat dalam politik praktis. Pertanyaannya adalah mengapa justeru sekarang NU malah dibawa kea rah politik praktis? Tata cara penyusunan kepengurusan PBNU yang sekarang mengindikasikan kuat bahwa NU telah dibawa ke ranah politik. Tidak hanya itu, penempatan Wakil Ketua Umum BIN, As’ad Said Ali sebagai Wakil Ketua Umum adalah sebagai bentuk nyata jika NU sekarang akan berpolitik praktis. Lantas apa arti amanah SBY saat pembukaan muktamar tersebut?

Inilah yang membuat hampir sebagian besar orang kecewa terhadap susunan kepengurusan PBNU sekarang. Tidak hanya Pimpinan Pondok Pesantren Miftachussunah, KHM Miftakhul Akhyar yang meradang dan menentang kepengurusan tersebut. Namun kita yang ingin melihat NU berdiri netral di tengah pergolakan politik bangsa yang semakin carut marut pun harus kecewa. Sebab apa yang dilakukan Ketua Umum PBNU saat ini jauh dari harapan publik. Pantas jika KHM Miftakhul Akhyar menuding bahwa KH Said Aqiel Siradj telah melakukan pelanggaran berat terhadap AD/ART organisasi tersebut. Pertanyaannya adalah dengan cara apa organisasi tersebut akan ikut mengelola masyarakat, jika saat pembentukan kepengurusannya sudah semrawut, dan banyak penentangan? Juga apakah Said Aqiel Siradj mampu mendamaikan orang-orang yang tidak puas? Apakah ini benar-benar embrio perpecahan di tubuh NU? (*/jpc)

Dibaca: 502 kali

Tagged as:

Comments are closed.

Temukan Kami Di Facebook