Empat Belas Tahun Bocah Menderita Lumpuh
Tuban (beritakota.net) – Akibat kemiskinan dan ketiadaan biaya berobat, Agung seorang bocah sejak berumur delapan bulan hingga menginjak umur 14 tahun ini tak mampu beraktifitas apapun. Anak ketiga dari pasangan Rasam (45) dan Sirah asal Desa Sendanghaji, Kecamatan Meraurak, Kabupaten Tuban itu hanya menjadi Kembang Bayang (seperti orang lumpuh) akibat penyakit polio yang dideritanya ini.
Sehari-hari, Agung dirawat oleh neneknya, Tarminah, 63, karena kedua orangtuanya sibuk bekerja sebagai buruh tani dan buruh selep padi di desa setempat. Kondisinyapun mengenaskan, pemuda yang seharusnya sudah duduk di bangku SMP itu hanya bisa berbaring dan duduk di atas kursi plastik pembelian ayahnya. Jangankan beraktifitas layaknya pemuda lain, untuk bicara saja, Agung tidak bisa.
“Kalau ingin makan atau lainya, dia (Agung) hanya teriak-teriak,” kata Sirah ketika ditemui di rumah sederhananya yang terbuat dari bambu, Kamis (15/7).
Diceritakan, penyakit yang diderita Agung tersebut berawal saat anak ketiga dari empat bersaudara tersebut berusia 8 bulan. Ketika itu, dia mengalami kejang-kejang yang luar biasa. Dan setelah dibawa ke rumah sakit, dokter memvonis dia menderita sakit polio.
“Hanya sekali saya bawa ke rumah sakit. Kata dokter, anak saya menderita polio,” sambung wanita paruh baya ini.
Setelah itu, pihak keluarga hanya mengobatkan Agung ke dukun di daerahnya saja. Namun, upaya-upaya penyembuhan tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil. Hingga berusia 14 tahun, Agung layaknya bocah baru lahir yang tak bisa berbuat apapun, kecuali berteriak saat lapar.
Badanya terlihat sangat kurus kering dengan tinggi badan sekitar 110 cm. Bobotnya pun hanya sekitar 10 kilogram. Lain halnya dengan kondisi tiga saudaranya. Semuanya sehat dan sempurna layaknya warga lain di desa sebelah barat kota itu. Anak pertama Rasam, saat ini bekerja di Malaysia. Sedangkan kedua adiknya masih bersekolah.
“Sampai sekarang, kami juga tidak habis pikir. Kenapa anak saya satu ini kok menderita sakit yang tak kunjung sembuh,” keluhnya.
Dengan keterbatasan ekonomi, keluarga inipun tidak bisa berupaya lebih untuk kesembuhan sang anak. Sebagai buruh tani, saban hari pendapatan Rasam dan Sirah masing-masing sebesar Rp 15.000. itupun hanya cukup untuk makan sekeluarga.
“Sebenarnya pengen mengobatkan Agung sampai sembuh. Tapi bagaimana lagi, kami tidak punya biaya,” ujar Sirah lirih berharap ada dermawan yang memberikan bantuan pengobatan. (kh)
Dibaca: 601 kali
