Advertorial Display

“Parsel Sampah” untuk Walikota Terpilih

Anggota DPR RI Protes Impor Sapi Illegal Asal Australia thumbnail

Surabaya (beritakota.net) – Ratusan warga yang mengatasnamakan dirinya Komunitas Peduli Kremil (KPK) dan Persatuan Warga Kremil (PWK), Rabu (1/9) siang menggelar aksi unjuk rasa di pinggiran Bozem Morokrembangan. Aksi unjuk rasa ini untuk menyikapi “invansi” sampah di Bozem Morokrembangan yang sudah berlangsung sejak Juli 2010 lalu. Sudah hampir 2 bulan ini warga Tambak Asri di pinggir sungai Bozem Morokrembangan mengeluh bau yang tidak sedap. Penyebabnya, pintu air bozem yang tertutup sampah. Bentangan sampah tampak menutup sungai selebar 20 meter. Gerombolan lalat ada dimana-mana, pemandangan pun tidak enak dilihat karena selain sampah rumah tangga yang menutup sungai, banyak pula bangkai binatang seperti tikus dan kucing di sana. Akibatnya, selain menimbulkan bau yang tidak sedap, munculnya belatung pun menjadi persoalan tersendiri.

“Belatung-belatung itu sampai memasuki rumah warga yang menghuni di pinggiran bozem,” kata Muhammad, Ketua RT 17 Tambak Asri. Memang, yang paling merasakan dampak dari “banjir” sampah ini adalah warga RT 17 Tambak Asri yang menghuni gang 23 dan gang 24.

Menurut Muhammad, tiap pagi dan siang, aroma tidak sedap menyeruak di seantero gang 23 dan gang 24. Dan kalau malam, warga diganggu “serangan” nyamuk dan lalat.

“Kami khawatir, warga kami akan mengalami Demam Berdarah, Diare, Muntaber dan ISPA,” kata Muhammad sembari menambahkan bahwa sebenarnya persoalan “invansi” sampah ini sudah dilaporkan ke Lurah Morokrembangan. Namun kenyataannya, persoalan ini belum teratasi.

Dalam aksinya, warga pun menduduki pos Cipta Karya yang selama ini menjadi operator dan penanggungjawab Bozem Morokrembangan. Selain itu, warga juga “menyegel” dan menempeli pos tersebut dengan foto-foto sampah, termasuk foto bangkai yang dipenuhi belatung dan lalat.

“Jika sampai 3 hari ke depan sampah-sampah tersebut tidak dibersihkan, bukan hanya foto, tapi warga akan memindahkan sampa -sampah tersebut termasuk bangkai yang dipenuhi belatung dan lalat ke dalam posko operator,” tegas Daniel Lukas Rorong, koordinator aksi pada rekan-rekan media.

Dalam kesempatan itu, warga pun mengemas sampah-sampah tersebut ke dalam bentuk “parsel”. Sedianya, “parsel sampah” yang juga berisikan belatung itu akan dikirimkan pada Lurah Morokrembangan, Dirjen Cipta Karya, Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan, juga pada pelaksana tugas (Plt) walikota ke Sekretaris Kota (Sekkota) Soekamto Hadi.

Tak hanya itu, “sampah parsel” itu akan dikirimkan pada Tri Rismaharini dan Bambang DH, jika sampai saat di hari pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Surabaya terpilih, Bozem Morokrembangan masih “banjir” sampah.

“Ini sebagai bentuk protes sekaligus kecintaan warga pada Bu Risma yang telah diberikan kepercayaan sehingga beliau bisa menang mutlak di Kecamatan Krembangan, khususnya di Tambak Asri pada saat pemungutan suara ulang Pemilukada Surabaya beberapa waktu lalu,” ungkap Daniel.

“Tolong, jangan hanya Taman Kota saja yang diperhatikan, tapi permasalahan sampah di Bozem ini juga perlu mendapatkan prioritas penanganan dari Bu Risma. Kasihan warga yang terkena dampaknya,” kata Daniel.

Daniel yang juga menjadi Ketua Komunitas Peduli Kremil (KPK) ini juga siap mengirimkan warga yang nantinya akan menjadi korban akibat dampak “banjir sampah” ini ke Pemkot Surabaya dan dinas-dinas terkait.

“Kami sudah berusaha menahan aksi anarkhis warga yang akan merusak pos operator dan screen filter sampah beberapa waktu lalu. Tapi kalau nantinya timbul korban jiwa akibat dampak dari menumpuknya sampah ini, warga akan bertindak tegas dengan caranya sendiri-sendiri, dan kami (KPK dan Pengurus RT) sudah lepas tangan kalau seperti itu,” ujar Daniel.

Dalam aksi ini, juga terlihat Sudarwati, anggota Komisi D DPRD Surabaya di tengah-tengah warga. Sudarwati juga baru mengetahui permasalahan ini pada waktu jaring aspirasi masyarakat yang berlangsung di RT 17, Senin (30/8) malam lalu.

“Kami mendesak agar dinas-dinas terkait segera mengatasi menumpuknya sampah yang terjadi di pos screen filter. Dan dalam waktu dekat, kami akan agendakan hearing untuk mengetahui permasalahan yang sebenarnya terjadi sehingga sampai terjadi banjir sampah seperti ini,” kata Sudarwati yang juga tokoh masyarakat di Tambak Asri.

Polisi pun hanya berjaga-jaga untuk mencegah tindakan anarkhis dari warga. Namun aksi ini pun berakhir damai setelah salah satu petugas pos Cipta Karya, Darmaji menjanjikan bahwa pihaknya dalam waktu 3 hari ke depan akan membersihkan tumpukan sampah di Bozem Morokrembangan. (*/dlr)

Dibaca: 350 kali

Tagged as:

Comments are closed.

Temukan Kami Di Facebook