Resonansi

Menakar Kualitas Kepemimpinan Bupati Gresik, Dari Yai Robbach-Sambari-Yani

beritakota.net
Senin, Oktober 04, 2021 WAT
Last Updated 2021-10-06T13:22:55Z
Advertisement

 Oleh: AH.Yani Elbanis*



Gresik, beritakota.net -- "Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya”. Begitulah kata-kata bijak yang sudah tidak asing di telinga kita mendengarnya. Bahkan, sering dijadikan sebagai kata penyemangat ketika dirinya merasa belum seperti orang yang sudah sukses. Memang ketika kita melihat orang yang sudah sukses selalu ada semangat untuk terus belajar dan belajar.


Demikian juga dengan setiap pemimpin mempunyai ciri tersendiri dalam menjalankan visi dan misinya, termasuk soal gaya kepemimpin di Gresik dari alm Bupati KH Robbach Ma'shum (2000-2010) sampai Dr H Sambari Halim Radianto (2010-2020) hingga saat ini Bupati H Fandi Ahmad Yani yang sudah 7 bulan berjalan sejak dilantik.


Dari tiga Bupati Gresik itu tanpa membanding-bandingkan satu sama lain penulis ingin menyampaikan model gaya khas dari kepemimpinannya masing-masing yang menjadikan icon dalam menjalankan pemerintahanya. Pada era Yai Robbach Ma'shum dikenal konsep pembangunan dengan tagline "Membangun Desa Menata Kota", banyak kemajuan saat itu dari transisi era reformasi 1998 menuju tahun berikutnya 1999 dan 2000 dimulainya pemerintahan beliau pada periode pertama dipilih DPRD, kemudian periode kedua  Pilkada secara langsung.


Pengalaman Yai Robbach berorganisasi banyak corak yang dijalankan untuk memimpin, selain beliau pernah menjadi Ketua PCNU Gresik, Ketua DPC PKB Gresik (ditunjuk langsung oleh Gus Dur pendiri PKB) juga Ketua DPRD Gresik 1999 serta beliau dikenal juru dakwah sebagai guru pernah menjadi Kepala Sekolah MAN Sidoarjo, pegawai PNS di lingkungan Kementrian Agama (Kemenag) beliau sempat non aktif karena menjadi Jurkam PPP masa Orde Baru sebelum bergabung PKB.


Saat memimpin birokrasi Pemkab Gresik beliau menerapkan semacam Pakta Integritas untuk pilihan atau opsi kepada bawahannya, mereka tidak dipaksa harus mengikuti menjalankan visi dan misinya, tetapi diberikan sebuah pilihan yaitu neraka atau surga?. Artinya di Pemkab Gresik pegawainya diberikan pilihan menentukan jalan surga atau jalan neraka, kalau memilih surga berarti masuk gerbongnya dan siap memajukan Gresik dengan konsepnya "Membangun Desa Menata Kota" dan apabila memilih jalan neraka, beliau lepas dari tanggungjawabnya sebagai pemimpin karena sudah memberikan jalan pilihan dengan konsekuensi yang harus ditanggungnya sendiri kelak di hari kiamat. Pendekatan teologis yang beliau terapkan berhasil mencapai kesuksesan, birokrasi lebih agamis juga dengan adanya bukti pembangunan Masjid Agung Gresik serta Masjid Al Inabah Pemkab Gresik yang sekarang  bertengger megah dan bermanfaat bagi warga Gresik. 


Bagaimana dengan kepemimpinan Sambari Halim Radianto?. Di era Bupati ini (2010-2020) sangat populer taglinenya; "Gresik Bisa Lebih Baik". Antara Yai Robbach dan Wak Gus Sambari sapaan akrabnya, sama sama menjabat dua periode, dia pernah menjadi Wakil Bupati pada masa kepemimpinan Yai Robbach periode pertama, dia juga selain pengusaha pernah menjadi Ketua DPD KNPI Gresik, Ketua DPD Golkar dan anggota DPRD Gresik 1999.


Tidak dipungkiri kepemimpinan Wak Gus Sambari bisa dirasakan kemajuan pesat pembangunan, diantaranya ada Hotel, Gresik Mall, Tol Gresik yang menghubungkan Sidoarjo dan Mojokerto juga warga Bawean bisa menikmati listrik dan pembangunan lapangan terbang Bawean-Surabaya serta fasilitas perbaikan jembatan atau jalan di sejumlah titik jalan juga pengairan di Kabupaten Gresik.


Wak Gus Sambari dengan lugas tegas memimpin, terutama kalau melihat pejabat bawahannya tersangkut kasus korupsi maka langsung diminta non aktif dari jabatannya, mempersilahkan hukum berjalan sesuai prosedur dia tidak menutup-nutupi atau memberikan suaka perlindungan, apabila terbukti secara hukum tidak segan memberikan sanksi sesuai aturan berlaku. Tidak sedikit pejabat masa Wak Gus Sambari yang kehilangan jabatannya dipecat dari PNS karena kasus korupsi. Wak Gus Sambari blak blakan dalam menghadapi masalah diselesaikan open menejemen sangat identik jokenya, "Wes pokok e aturen", menggambarkan dia memimpin tidak ingin menggunakan cara tirani tangan besi, tapi mengajak bersama bagaimana baiknya untuk manfaat kemajuan masyarakat Gresik Bisa Lebih Baik.


Nah kini giliran H Fandi Ahmad Yani memimpin Gresik maka masa depan kota santri dengan khas makanan Pudak dan Nasi Krawu ini dipertaruhkan. Tagline kepemimpinannya adalah 'Perubahan' saat kampanye bersama pasangannya (Wabup Hj. Aminatun Habibah) yaitu "Manut Kyai", "Gresik Baru". Dia dilantik bulan Februari hari Jum'at tanggal 26 tahuns 2021. Sebelumnya ia pengusaha juga aktif di PC Ansor Gresik serta menjadi Ketua DPRD Gresik dari Fraksi PKB. 


Bupati Yani menantu Gus Ali (KH Agoes Ali Mashuri Pengasuh Ponpes Bumi Sholawat Sidoarjo) ini dikenal sangat milenial gaya kepemimpinannya, maklum usianya relatif muda dengan semangat visi misi Gresik Baru banyak orang mengharapkan tidak sekedar slogan-jargon, tapi perlu dengan pembuktian. Memang dilematis, dengan adanya pandemi covid 19 dari 100 hari kerjanya tidak sedikit juga yang menjadi kendala untuk merealisasikan program visi misinya, namun meski begitu dia terbilang cukup sukses dalam menangani kasus covid yang terus kian cenderung mengalami penurunan, dengan gencarnya beliau menerapkan PPKM dan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) serta vaksinasi digalang besar-besaran sampai saat ini dilakukan. 


Pasca 6 bulan bertugas menjadi Bupati ada kebijakan beliau yang menjadi sorotan yaitu mutasi besar - besaran, dianggap bermasalah karena yang dimutasi pejabat sudah pensiun, yang terkena mutasi belum mengetahui ditempatkan ke pos tugas lainnya  namun hal itu segera sudah diatasinya sesuai peraturan. Dia juga membuka kran transparan urusan pengisian jabatan dengan lelang terbuka, dibuktikan terkait jabatan Sekda Gresik yang lama kosong dibuka pendaftaran calon sebagaimana dituangkan dalam Pengumuman Nomor : Pansel/01/2021 tentang seleksi jabatan pimpinan tinggi pratama sekretaris daerah. Saat seleksi pendaftaran berlangsung tercatat 7 orang pejabat eselon II B, dinyatakan lolos hanya tiga orang penuhi persyaratan untuk tahap penentuan calon sekda ada Abu Hasan (Asisten Sekda), Achmad Washil Miftahul Rahman (Kadis PUTR) dan Budi Harjo (Kadisnaker). Kemudian hasil akhir putusan Bupati Gresik menentukan pilihannya kepada Achmad Washil Miftahul Rahman, beliau melantiknya kemarin pada tanggal 30 September 2021.


Bersama Wabup dan Sekdanya yang baru itu banyak PR harus diselesaikan, terutama menyangkut kepentingan pelayanan publik seperti perizinan bagaimana menciptakan iklim usaha sehat, yaitu lebih memudahkan investasi di Gresik dengan semakin mempermudah proses perizinan, bisa lebih cepat lebih baik selesai keluar izinnya proses gak pakai lama menunggu kalau ada pengusaha melakukan pengurusan izin di birokrasi Pemkab Gresik.


Selain itu masalah PDAM yang sudah berganti nama Perumda Giri Tirta dengan berbagai persoalan pelik didalamnya, juga berkaitan pelayanan masih dinilai belum memuaskan pelanggan serta kebocoran dan kejelasan peruntukan penyertaan modal dari APBD 2020 sebesar Rp. 25 milyar perlu keseriusan penyelesaian, terkait ini Bupati Yani sudah perintahkan Inspektorat Pemkab setempat untuk segera melakukan audit secara transparan. 


Dus sambil terus berjalan roda pemerintahan Bupati Yani yang masih seumur jagung ini, sangat dinanti-nanti masyarakat merealisasikan dari program visi misinya; 'Gresik Baru', syahdan memang dalam menjalankan tugas kinerjanya kita harus menyadari bila tidak ada manusia yang sempurna, maka demikian pula dengan kepemimpinan pada tiap periode ke periode itu tidak luput dari  kelemahan, tapi juga tidak bisa menutup mata dengan kelebihan yang dimiliki masing-masing pemimpin itu harus diakui. Sehingga baru akan fair kalau ingin menakar seorang pemimpin pada zaman yang berbeda. Namun yang terpenting perlu diingat bahwa setiap dari mereka itu pasti punya cara agar bagaimana bisa melayani mengayomi, bahkan menjadi Bapak untuk semua warganya supaya terus bisa membawa manfaat demi kemajuan Gresik. 


Wallahu 'A'lam bi Asshowab.


*Penulis Jurnalis Gresik sejak 2000 di Jawa Pos, 2004 Harian Duta Masyarakat, 2008 Harian Surabaya Pagi, 2010 Harian Bangsa, saat ini dengan PT Medianet Berita Kota, anggota Komunitas Wartawan Gresik (KWG).

TrendingMore

close