"Ayo kita ramaikan semarakkan napak tilas, semoga kita semua dapat berkah dalam berkhidmah meneruskan perjuangan para mu'assis ulama dan kyai NU", ujar Ketua BGD Jawa Timur, Ahmad Arrizal kepada beritakota.net, Rabu (31/12/2025).
Menurut Ahmad Arrizal dalam kegiatan napak tilas tersebut BGD bersama dzurriat muassis NU akan melakukan kirab Tongkat dan Tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan.
Kegiatan napak tilas ini dijadwalkan berlangsung pada 4 Januari 2026. Tiga dzurriyyah yang terlibat dalam penyelenggaraan kirab tersebut ialah Dzurriyyah KH. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Dzurriyyah Pesantren Tebuireng Jombang, serta Dzurriyyah Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.
"Kirab ini memiliki makna penting, terutama dalam rangka memperingati satu abad kelahiran NU secara Masehi," tambahnya.
Dijelaskan tujuan pertama dari kirab ini adalah memperingati 100 tahun kelahiran NU, 1926–2026. Yang kedua, dalam situasi seperti ini, diharap para pimpinan NU, mulai dari tingkat cabang, wilayah, hingga PBNU, agar tidak melupakan sejarah.
"Yaitu mereka dapat kembali mengingat bagaimana sulitnya perjuangan para muassis dalam mendirikan NU,” tambahnya.
Dikatakan Ahmad Arrizal perjuangan para pendiri NU tidak lepas dari proses panjang, riyadhah, serta isyarah para ulama sebelum organisasi besar ini berdiri.
Yakni menunggu isyaroh dari langit dan petunjuk para ulama. Dengan adanya kirab atau napak tilas ini, diharapkan setiap pengurus NU di semua tingkatan membuat replika tongkat dan tasbih tersebut.
"Nantinya, replika itu dapat disimpan di kantor masing-masing sebagai simbol penyerahan dari pengurus lama kepada pengurus baru,” imbuhnya seraya menegaskan bahwa simbol tongkat dan tasbih memiliki makna penting sebagai pengingat sejarah perjuangan para muassis NU.
“Setiap ada muktamar, konferensi, atau pergantian pengurus NU, simbol tongkat dan tasbih kepada pengurus baru diharapkan bisa kembali menghidupkan memori perjuangan NU,” tegasnya.
Napak tilas tersebut akan diawali dari Demangan Bangkalan, tempatnya Syaikhona Kholil gurunya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari pendiri NU, kemudian peserta napak tilas akan serentak bertemu di titik kumpul yang dipusatkan di Pesantren Tebuireng Jombang, pondoknya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari .
Kirab Napak Tilas Tongkat dan Tasbih Syaikhona Kholil sebagai pengingat perjuangan para muassis NU. Ia menyebut bahwa para pendiri NU dahulu menempuh perjalanan berat, bahkan berjalan kaki dari Bangkalan menuju Tebuireng demi merawat dan memperjuangkan nilai-nilai keulamaan. Bagaimana para muassis sampai berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng.
"Dengan mengingat hal itu, para pengurus seharusnya tidak main-main ketika menjadi pengurus NU. Jangan memanfaatkan NU, apalagi sampai merusaknya. Yang merusak NU itu bukan organisasi lain, yang merusak NU itu ya orang NU sendiri,” tegas Ahmad Arrizal yang pernah menjadi Ketua PMII Komisariat Unsuri Surabaya ini. (ian)

|
beritakota.net |
